www.AlvinAdam.com

Berita 24 Sulawesi Selatan

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Menteri Susi: Kapal STS-50 Diduga Terlibat Perdagangan Orang ...

Posted by On 04.52

Menteri Susi: Kapal STS-50 Diduga Terlibat Perdagangan Orang ...

Menteri Susi: Kapal STS-50 Diduga Terlibat Perdagangan Orang Indonesia

Pemeriksaan bertujuan untuk memeriksa dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan STS-50

Menteri Susi: Kapal STS-50 Diduga Terlibat Perdagangan Orang IndonesiaDennis Destryawan/Tribunnews.comSusi Pudjiastuti

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim gabungan dari TNI Angkatan Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Polri, mengamankan kapal asing ilegal STS-50.

Kapal diamankan oleh Satuan Tugas Indonesia 115, tim gabungan dari Departemen Kelautan dan Perikanan, dan Angkatan Laut Indonesia untuk penangkapan ikan ilegal. Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti menerangka n, tim gabungan mengamankan Kapal STS-50 karena masuk dalam daftar buronan Interpol.

"Pemeriksaan bertujuan untuk memeriksa dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan STS-50 dan dugaan perdagangan orang terhadap 20 orang ABK warga negara Indonesia," ujar Susi di kantor KKP, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (18/4/2018).

Dalam memeriksa dugaan perdagangan orang, ucap Susi, tim gabungan dibantu oleh International Organization of Migration. 20 orang ABK STS-50 berasal dari beberapa provinsi di Indonesia.

"Mereka dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan," ujar Susi.

20 orang ABK itu disalurkan oleh agen penyalur PT GSJ yang diduga mengetahui sejarah operasi ilegal kapal STS-50. Sebelum diberangkatkan, mereka diwajibkan menandatangani perjanjian kapal laut (PKL) yang menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris, namun tidak diizinkan membaca seluruhnya dan diminta juga untuk membayar jutaan rupiah sebagai biaya pengurusan.

"PT GSJ tidak memberi informasi secara benar kepada ABK karena sebelumnya dijanjikan akan dikirim ke kapal Korea, namun pada kenyataannya dikirim ke kapal Rusia," ujar Susi.

Para ABK dijanjikan gaji sekitar 360 dolar AS per bulan, namun gaji para ABK selama dua bulan pertama ditahan sebagai jaminan penyelesaian kontrak. Jumlah yang diterima keluarga ABK juga lebih kecil dari seharusnya, yaitu sekitar Rp4,5 juta per bulan.

"Para ABK juga dikenakan biaya administrasi sebesar Rp2,5 juta yang dibayarkan selama lima bulan atau potongan sebesar Rp500 ribu per bulan. Apabila para ABK tidak bekerja di atas kapal, mereka diancam pemotongan gaji hingga sekitar 25 dolar," ujar Susi.

Kapal STS-50 sebelumnya pernah ditahan dan diperiksa pemerintah China pada tanggal 22 Oktober 2017 sebelum melarikan diri tanpa membawa dokumen apapun. Kapal ini pada 18 Fenruari 2018 juga ditahan dan diperiksa oleh pemerintah Mozambik sebelum kembali melarikan diri di hari yang sama.

Semenjak kapal tertangkap pertama kali di Tiongkok di mana paspor serta buku pelaut disita oleh petugas pemeriksa, para ABK sudah meminta pulang dan melakukan mogok kerja. ABK WNI sempat menghubungi PT GSJ selaku agen penyalur untuk dipulangkan, namun ditolak dan diancam pembayaran denda kontrak sebesar Rp6 juta.

Kapten kapal STS-50 juga mengatakan bahwa apabila para ABK menolak bekerja, maka status mereka berubah menjadi penumpang dan harus membayar 25 dolar AS per hari selama tinggal dan berada di atas kapal.

"Kami mengapresiasi kembali peran Interpol, IOM dan beberapa organisasi nonpemerintah seperti Fish-I Africa dan Se Shepperd yang telah membantu dalam memeriksa kapal STS-50," paparnya.

Pemerintah melalui Satgas 115 juga akan terus berkoordinasi dengan sejumlah mitra internasional seperti Interpol, Australia, Selandia Baru, Togo, China dan Mozambik untuk menelusuri dalang dan pemegang saham dari kapal STS-50.

"Sehingga dapat diti ndak dengan tegas dan tuntas berdasarkan hukum yang berlaku," ujar Susi.

Penulis: Dennis Destryawan Editor: Johnson Simanjuntak Ikuti kami di Pengakuan Pasutri Pelaku Pesta Seks dan Bertukar Pasangan di Surabaya yang Digerebek Polisi Sumber: Google News | Berita 24 Sulsel

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »