www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Pinisi sebagai Komoditas Ekonomi

Posted by On 21.10

Pinisi sebagai Komoditas Ekonomi

Pinisi sebagai Komoditas Ekonomi

Koran Sindo

loading...
Pinisi sebagai Komoditas Ekonomi
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Setyadi Sulaiman. Foto/SINDOnews
A+ A- Setyadi Sulaiman
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
UNESCO mene­tap­kan kapal pinisi asal Sulawesi Se­la­tan sebagai Waris­an Budaya Takbenda Dunia. Ra­sa bangga dirasakan tidak ha­nya oleh masyarakat Sulawesi Se­lat­an, tapi juga seluruh rakyat In­donesia. Penetapan ini me­nan­dai dua hal: pengakuan in­ter­na­sio­nal atas warisan tek­nologi tra­disional Indonesia serta pe­luang pengembangan teknologi berbasis budaya lokal seb agai komoditas ekonomi.
Pengakuan internasional atas pinisi semakin mengu­kuh­kan Indonesia sebagai negara maritim yang sedang berjuang mewujudkan mimpi menjadi poros maritim dunia. Pera­dab­an dan budaya maritim sudah menjadi karakter Indonesia. Dengan posisi geopolitik, geo­stra­tegis, serta potensi kelaut­an­nya, negara berpenduduk 256 juta jiwa ini pernah sangat berjaya di masa lalu dan pinisi menjadi saksi kejayaan ter­se­but. Selain membawa masya­ra­kat berlayar mengelilingi dunia, mengarungi lautan ke barat Samudra Hindia hingga Ma­da­gaskar dan ke timur hingga Pu­lau Paskah, pinisi juga berhasil meramaikan dunia per­da­gang­an maritim Nusantara.
Teknologi Berbasis Budaya Lokal
Kapal yang telah diproduksi masyarakat Bugis-Makassar se­jak abad ke-14 ini menjadi con­toh pengembangan teknologi berbasis budaya lokal. Karlina Supelli (2016) mende­fi­ni­si­kan­nya sebagai upaya “me­mam­pu­kan” (enabling) kekuatan atau po tensi teknologi lokal sehing­ga semakin kuat, aktual, me­nye­jah­terakan serta memiliki nilai tambah bagi masyarakat luas. De­finisi tersebut membuka kem­bali wacana relasi teknologi dan kebudayaan yang sempat didengungkan Sumitro Djo­jo­ha­dikusumo, Soedjat­moko, YB Mangunwijayaâ€"terangkum dalam buku Teknologi dan Dam­pak Kebudayaannya (1987).
Dengan luasnya pengaruh tek­nologi dalam sendi kehi­dup­an masyarakat, Djoj­o­ha­di­ku­sumo mengajukan pertanyaan, dapatkah peranan dan fungsi tek­nologi diarahkan pada pen­capaian kesejahteraan ma­nu­sia? Menjawab hal tersebut Soedjatmoko berupaya melihat peranan kebudayaan dalam men­jinakkan teknologi dalam kerangka pembangunan. Me­ru­juk pada industrialisasi yang tak sepenuhnya berhasil meng­atasi masalah pengangguran di banyak negeri yang sedang ber­kembang, Soedjatmoko me­nya­rankan agar negara dunia ketiga memilih untuk mem­per­gu­nakan teknologi menengah (intermediate technologies) se­bagai altern atif terbaik. Tek­no­logi menengah memungkinkan negara dunia ketiga mampu me­ngembangkan teknik-teknik produksi yang padat karya dan secara teknis akan sangat ber­manfaat bagi penguatan eman­si­pasi masyarakat.
Saran lain diberikan YB Mang­unwijaya. Menurutnya, mau tidak mau masyarakat ha­rus aktif berhadapan dan me­ngo­lah segala apa yang ber­kaitan dengan teknologi. Ma­sya­rakat harus bersikap gam­blang, paham apa yang harus di­perbuat serta bertanggung jawab, baik terhadap pribadi masing-masing maupun ke­pa­da g­enerasi mendatang. Oleh ka­renanya perlu dibedakan secara tegas teknologi sebagai ide (in abstracto ) dengan tek­no­logi sebagai realitas (in concreto). Sebagai ide, teknologi dapat di­cip­takan secanggih apa pun se­suai dengan perkembangan za­man. Namun sebagai realitas, tek­nologi harus mampu mem­ber­dayakan dan menyejah­te­ra­kan masyarakat, juga menjaga nilai-nilai tradisi dalam setiap pengembangannya.
Dalam konteks itulah keter ­kait­an erat teknologi dan kebu­da­yaan dapat dipahami. Pe­rihal kaitan erat keduanya, ke­bu­da­ya­an mendorong per­cepatan ke­ma­juan teknologi, se­dang­kan teknologi memacu di­na­mika kehidupan dalam se­mua aspek ekonomi, bisnis, per­dagangan; ­sosial, politik; agama dan pe­ri­badatan. Ke­majuan tek­nologi membawa dampak nyata pada perkem­bangan ke­bu­dayaan. Seba­lik­nya kebu­da­ya­an me­macu ino­vasi teknologi untuk mencapai kemajuan da­lam kehidupan masyarakat. Se­mentara ke­bu­dayaan mem­ba­wa dampak besar terhadap pen­ciptaan tek­nologi, masyarakat memetik manfaat dari kema­ju­an tek­nologi, khususnya bagi per­cip­ta­an kehidupan yang lebih mudah, nyaman, dan me­nye­nangkan (Alhumami, 2016).
Rumusan konseptual ter­sebut dapat digunakan untuk memahami konteks pengem­bangan teknologi berbasis bu­da­ya lokal seperti kasus pinisi. Proses pengembangan tekno­lo­gi perlu dilakukan, tetapi tidak harus mereduksi budaya lokal. Strategi pengembangan tek­no­logi perlu dimulai dengan meng­integrasikan budaya se­bagai bagian dari proses pen­cip­ta­an inovasi. Dengan dasar ini, setiap inovasi baru yang di­ha­silkan tidak akan kering dari nilai-nilai budaya lokal. Ma­sya­ra­kat di Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Makassar, atau­pun di Pulau Sangeang, Sum­bawa keduanya menjadi pusat pembuatan pinisi berhasil men­jaga prinsip tersebut. Mereka membuat kapal dengan bera­gam inovasi, tetapi tidak sama sekali menanggalkan nilai-nilai tradisi.
Komoditas Ekonomi
Penemuan beragam inovasi tersebut membuat pinisi men­jadi komoditas ekonomi. Su­dah banyak investor asing yang ber­gerak cepat menangkap pe­luang ekonomi melalui pinisi. Menggunakan tenaga kerja ma­syarakat lokal, mereka me­la­ku­kan inovasi pembuatan pi­nisi. Dari cara pengerjaan dan ba­han-bahannya, kapal itu 100% pinisi tradisional, tetapi me­sin­nya tergolong modern, bahkan dengan beragam fasi­litas cang­gih. Menaiki pinisi saat ini se­perti halnya berada di hotel ber­bintang, memberikan kenya­man­an serta mena­warkan kein­dah­an bagi pe­numpang.
Di satu sisi kita patut bangga ketika pinisi diakui dunia in­ter­nasional sebagai komoditas eko­nomi yang memiliki pros­pek cerah. Distribusi penjualan pinisi telah menjangkau banyak negara di dunia. Hal ini seyo­gia­nya menjadi modal pemerintah dalam upaya mewujudkan visi Indonesia sebagai poros ma­ri­tim dunia yang salah satunya di­lakukan melalui pengem­bang­an wisata bahari. Dengan modal keindahan alam laut yang ter­sebar di banyak pulau, peme­rin­tah dapat mengoptimalkan po­tensi pinisi demi merealisasi visi tersebut.
Namun di sisi lain kita patut resah. Selama ini yang me­man­faat­kan potensi pinisi umum­nya pengusaha asing, jarang sekali peluang itu ditangkap pengusaha Indonesia. Ka­lau­pun pengusaha lokal memu­tus­kan berbisnis usaha pinisi, umumnya mereka kalah ber­saing, baik secara mo dal mau­pun konsep kapal.
Dengan dasar ini peme­rin­tah perlu mendorong pengu­sa­ha Indonesia untuk lebih meng­optimalkan potensi pinisi se­ba­gai komoditas ekonomi. Jika persoalannya adalah modal semua mafhum mahalnya kayu se­bagai bahan pembuatan pi­ni­si, perlu ada regulasi khusus sehingga tidak memberatkan para pengusaha Indonesia. Atau ketika yang dihadapi ada­lah fakta tergerusnya pinisi oleh kapal-kapal besi yang justru di­subsidi untuk mendukung pro­gram tol laut, perla­ku­an adil dan proporsional harus menjadi prinsip kerja pe­me­rin­tah.
Selain akan mendukung program pemerintah atas pe­ngembangan wisata bahari, lang­kah optimalisasi pinisi se­ba­gai komoditas ekonomi juga di­perlukan sebagai upaya men­jaga keluhuran budaya Indo­ne­sia sekaligus memperkuat jati diri bangsa. (kri)Sumber: Google News | Berita 24 Sulsel

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »