www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Spesies baru cecak ditemukan di pulau terpencil Sulawesi Selatan

Posted by On 16.48

Spesies baru cecak ditemukan di pulau terpencil Sulawesi Selatan

Cyrtodactylus tanahjampea.
Cyrtodactylus tanahjampea. | J A. Mcguire /Plazi.org

Akhir tahun lalu, para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menemukan jenis baru cecak di Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Cecak baru yang diberi nama Cnemaspis purnamai itu merupakan genus dari cecak batu.

Baru-baru ini, spesies baru cecak kembali ditemukan oleh para peneliti LIPI. Seperti dilansir Kumparan, Kamis (5/7/2018), tim peneliti menemukannya di Tanah Jampea, sebuah pulau terpencil di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Cecak spesies baru diberi nama ilmiah Cyrtodactylus tanahjampea.

Seorang ahli herpetologi da ri LIPI, yakni Amir Hamidy menjelaskan bahwa cecak yang mereka temukan adalah cecak jari lengkung. Ini adalah spesies cecak jari lengkung ke-36 di Indonesia.

"Jenis cecak jari lengkung di Indonesia saat ini menjadi 36, kalau di dunia jumlahnya ada 233 jenis," kata Amir dikutip Kompas.coms (6/7).

"Cecak jari lengkung ini kita namakan genus tersendiri, beda dengan cecak rumah. Perbedaan dari kedua jenis cecak itu adalah jari kaki dan tangannya yang tidak memiliki lamela," ujarnya pada Detikcom (6/7).

Lamela merupakan bagian di kaki cecak yang menggelembung, fungsinya untuk menempel di lapisan halus. Sementara cecak jenis baru ini memiliki jari yang tampak lebih panjang dan melengkung-lengkung.

Maka dari itu, cecak jenis baru itu tidak bisa menempel di permukaan halus, apalagi kaca. Berbeda dengan cecak atau tokek yang sering kita lihat di rumah. Hal ini karena pada jari kaki nomor empat jumlah segmennya 19 hingga 21 lamela.

Cecak yang berukuran sedang itu memiliki panjang dari ujung moncong hingga membukanya kloaka mencapai 76,1 milimeter pada jantan dewasa dan 72,8 milimeter pada betina dewasa. Dan yang membuat unik dari cecak tersebut terletak pada bagian sisiknya.

Jika diamati lebih detail, bagian tengah dari sisik-sisik sedikit menonjol khususnya di bagian tangan dan kaki. "Ini menjadi ciri khusus cecak Tanah Jampea ini," katanya.

Cyrtodactylus tanahjampea
Cyrtodactylus tanahjampea | A. Riyanto /Plazi.org

Selain sisik di kaki dan tangan, sisik di bagian samping tubuh cecak juga terdapat tonjolan di tengahnya. Lalu, bagian ekor cecak ini juga melingkar ke dalam yang berfungsi untuk bergelantungan, tambah Amir.

"Perbe daan dengan cecak dari Pulau Halmahera adalah jumlah sisik di bagian perutnya. Untuk ukuran panjangnya, kedua cecak ini masuk ke kelompok sedang," katanya.

Selain itu, spesies ini bisa dibedakan berdasarkan kombinasi unik karakter berupa struktur tuberkular pada lengan atas, bawah, dan di sepanjang lipatan kulit ventrolateralnya.

Selain itu, ada 20 sampai 23 baris struktur tuberkular berlunas yang tersusun tak teratur antara lipatan ventrolateral di tengah tubuh cicak ini dan ada 31 sampai 34 struktur tuberkular di sepanjang paravertebralnya.

Para peneliti mencatat, keberadaan struktur tuberkular membentang sepanjang 71 persen dari panjang ekor cecak yang mencapai 147 persen dari panjang tubuhnya.

Hal menarik lainnya, ada 29 sampai 34 sisik perut di antara lipatan ventrolateral cecak ini. Dan ia tidak memiliki cerukan prekloakal, tapi memiliki sisik besar prekloakal dan sisik besar femoral yang tersambung menerus.

Awalnya, Amir menemuk an cecak tersebut pada 2005 saat ia sedang melakukan ekspedisi bersama sejumlah ilmuwan di Sulawesi Selatan. Butuh bertahun-tahun untuk memastikan cecak tersebut adalah spesies baru.

Akhirnya pada 2018, tim peneliti yakin kalau cecak ini adalah spesies baru. "Karakter cecak ini endemik dan kerabat yang paling dekat adalah cecak dari pulau Halmahera, yaitu Cyrtodactylus halmahericus," ujarnya.

Amir menambahkan, cecak baru ini hanya dapat ditemukan di Pulau Tanahjampea, Sulawesi Selatan. Lokasi pulau Tanahjampea sangat terpencil dan ini membuat cecak ini melakukan penyesuaian dengan lingkungannya, sehingga memunculkan karakter khusus atau endemik.

Tim peneliti LIPI berharap penemuan spesies baru ini akan mendorong para ilmuwan di Indonesia agar terus menggali potensi keanekaragaman hayati yang ada.

"Saya membayangkan bahwa dengan sifat endemik cecak, 10 tahun ke depan akan lebih banyak ditemukan jenis-jenis cecak baru," kata Amir. "Sel ain itu, Saya berharap para ilmuwan di Indonesia akan terpacu untuk menjadi pionir dalam pengembangan sains dan penemuan spesies-spesies baru lainnya di Indonesia," .

Hasil penelitian terhadap spesies cecak baru ini telah dipublikasikan daring dalam jurnal Zootaxa bertanggal 29 Juni 2018. Dalam penelitian ini tim peneliti LIPI yang terdiri dari Awal Riyanto dan Amir Hamidy berkolaborasi dengan Jimmy A. Mcguire, peneliti dari Museum of Vertebrate Zoology, University of California, Berkeley, AS.

Sumber: Sulawesi Selatan

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »